Satu ketika serentak desa-desa di kelurahan di kecamatan Minggir mengadakan pemilihan
kepala padukuhan. ini adalah peristiwa yang langka, mengingat masa jabatan dukuh adalah
seumur hidup. ya maklum-maklum aja siih mungkin mereka dukuh yang lama seangkatan
lulus dunianya juga bareng-bareng. tak seperti di kota pejabat di desa mendapatkan
balas jasa berupa “bengkoK” tanah yang bisa digarap selama mereka menjabat. tapi
mereka bisa menjalankan amanah mereka dengan iklas lillahita’ala.
Di lain tempat yang masih satu desa (dengan rumah calon dukuh tentunya), atau tepatnya
di pangkas rambut Pak Pardi Waton Tugel. sekelompok akar rumput berkumpul. untuk menjalankan
ritual bulanan, cukur rambut. “Antri mas, Masih lama?” sahut pelanggan setengah baya yang
baru datang. “Nggih pak ditunggu saja.” jawab 4 orang dari berbagai kalangan yang sangat
setia dan rela mengorbankan rambutnya. “wah…. ya wis lah, pripun pak Pardi pemilihan dukuih di sini.”
“Nggih lancar… hasilnya bisa ditebak kok.” jawab pak pardi sambil terus konsentrasi penuh agar
memperoleh hasil pahatan rambut tok cerr. “tapi pemilih di sini sudah lebih pintar pak,
Continue Reading »